Perilaku Peduli Lingkungan

Indeks Perilaku Peduli Lingkungan (IPPL) di Indonesia masih rendah, yakni masih berkisar pada angka 0,57, dari angka mutlak

Berita340 Views

Saat kita selalu menyerukan tentang Perilaku Peduli Lingkungan, diluar sana masih banyak yang tidak peduli sama sekali terhadap lingkungan sekitarnya.

Mulai dari membuang sisa makanan yang tidak pada tempatnya juga membuang sampah tidak membedakan mana sampah kering dan sampah basah, sehingga memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan itu sendiri.

Sudah Saatnya kita semua untuk melakukan gerakan budaya untuk mengatasi makanan atau bahan pangan yang terbuang sia-sia. Gerakan itu antara lain sosialisasi sikap konsumsi yang beretika terhadap konsumen.

Konsumsi yang tak terencana, baik jumlah maupun kualitas, harus di hilangkan untuk mengurangi pangan yang terbuang percuma.

Sikap ini menjadi solusi untuk menekan pemborosan pangan dan meningkatkan penghargaan pada produsen pangan.

Perbuatan membuang makanan termasuk sikap boros yang tidak seharusnya di lakukan. Dalam ajaran Islam sikap boros dan membuang makanan disebut mubazir.

Larangan membuang harta termasuk makanan merupakan kebiasaan setan.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara syaitan,” (QS. Al Isro’: 26-27).

Abu Hurairah juga mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda hal-hal yang membuat Allah SWT murka terhadap hambanya dan salah satunya adalah mubazir atau membuang makanan.

Perilaku Peduli Lingkungan

Indeks Perilaku Peduli Lingkungan (IPPL) di Indonesia masih rendah, yakni masih berkisar pada angka 0,57, dari angka mutlak 1. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia belum berperilaku peduli lingkungan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Salah satu faktor penyebab masih rendahnya IPPL adalah perilaku konsumsi masyarakat yang kurang bijak dalam pemenuhan kebutuhannya. Menurut survei 49,3 persen berupa bahan pangan masih berasal dari luar daerahnya.

Etika Konsumsi Cegah Pangan Terbuang

 

Kondisi tersebut tentunya memberikan dampak bagi lingkungan seperti meningkatnya emisi karbon akibat sistem logistik dan transportasi bahan pangan tersebut dari daerah asal ketempat tujuan.

Selain itu pola konsumsi jenis bahan pangan juga masih timpang, masyarakat hanya mengkonsumsi sekitar 36,4 persen produk bahan pangan yang dihasilkan daerahnya sendiri, terutama produk sayuran dan umbi-umbian lokal.

Di sejumlah daerah, masih banyak mulut yang sulit mendapatkan makanan layak bahkan terancam kelaparan.

Pada sisi lain, bahan pangan begitu melimpah hingga terbuang sia-sia. Sudah saatnya semua pihak mengurangi limbah makanan dan berhenti makan berlebihan.

Penduduk dunia di negara maju maupun berkembang memiliki kebiasaan membuang-buang makanan.

Sepertiga makanan yang diproduksi di bumi setiap tahun terbuang sia-sia dan buangan mempengaruhi terjadinya pemanasan global.

Perilaku Peduli Lingkungan sudah di abaikan saat ini, Sehingga berdampak menciptakan gas karbon dan metana, yakni gas beracun yang 4 kali lebih berbahaya dibanding karbon.

Perlu solusi teknologi dan rekayasa kebudayaan menghadapi bahan pangan yang terbuang.

Makanan ini tidak pernah masuk dalam perut manusia akibat berbagai macam masalah, seperti masalah infrastruktur dan fasilitas penyimpanan hingga masalah penjualan.

Regulasi perdagangan justru melahirkan dampak negatif, hanya gara-gara prosedur dan standarisasi, sejumlah besar bahan pangan menumpuk di pelabuhan dan membusuk.

Betapa besarnya bahan pangan yang gagal untuk dimakan gara-gara aturan yang proteksionis dan politis.

Hal itu tidak hanya di alami di negara berkembang, tetapi juga terjadi di negara maju.

Seperti di Inggris,di mana sekitar 30 persen sayuran yang di tanam di sana tidak jadi di panen hanya karena gagal memenuhi standar “tampilan fisik”.

Sementara lebih dari separuh pangan yang di beli di Eropa dan Amerika di buang oleh konsumennya.

Padahal, guna memroduksi semua makanan yang terbuang tersebut dibutuhkan sekitar 550 miliar m3 air yang kemudian terbuang percuma karena makanan tersebut menjadi limbah.

Data menunjukkan bahwa jumlah pangan terbuang di negara maju lebih besar di bandingkan negara berkembang.

Tetapi jumlah makanan yang terbuang di negara berkembang termasuk di Indonesia volumenya cenderung meningkat.

Sebagian besar makanan tersebut terbuang pada tahap konsumsi dan banyak yang masih dalam kondisi layak di konsumsi. Jumlah pangan terbuang oleh konsumen mencapai hingga 115 kg per kapita per tahun.

Selain itu jumlah pangan terbuang di negara berkembang lebih banyak terjadi dalam pascapanen dan rantai distribusi.

PPeduli Lingkungan

Kehilangan pangan pada level ini lebih banyak terjadi karena rendahnya pengetahuan dan pengembangan, implementasi teknologi pascapanen, dan sistem logistiknya.

Besarnya jumlah pangan yang terbuang menunjukkan disparitas yang memilukan.

Sebagian besar pangan yang di produksi dan di eksport oleh negara berkembang dengan susah payah dan effort yang besar, ternyata sesampai di negara maju banyak yang di buang-buang percuma.

Padahal data juga menunjukkan bahwa produksi pangan petani negara berkembang mampu memberi makan lebih dari 70 persen populasi dunia.